Urgensi Amar Makruf Nahi Mungkar

Dalam kehidupan ini, kebaikan dan keburukan selalu hadir berdampingan. Sebagai seorang Muslim, kita memiliki tanggung jawab untuk menegakkan kebaikan (amar makruf) dan mencegah keburukan (nahi mungkar). Inilah salah satu pilar utama dalam Islam yang menjaga ketertiban dan kemuliaan umat manusia. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌۭ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَأُو۟لَـٰئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)

Ayat ini menegaskan bahwa kesuksesan dan kejayaan umat Islam bergantung pada sejauh mana mereka menegakkan amar makruf nahi mungkar. Bahkan, Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa jika keburukan dibiarkan tanpa ada yang mencegahnya, maka azab Allah bisa menimpa semua orang.

Kisah Keteguhan Abu Bakar dalam Menegakkan Amar Makruf Nahi Mungkar

Salah satu contoh terbaik dalam menegakkan amar makruf nahi mungkar datang dari Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Suatu ketika, beliau berkhutbah dan membacakan ayat:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهْتَدَيْتُمْ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًۭا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; orang yang sesat tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Kepada Allah kamu semua kembali, lalu Dia akan memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”(QS. Al-Ma’idah: 105)

Abu Bakar kemudian berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini, tetapi kalian salah memahaminya. Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya jika manusia melihat kemungkaran tetapi mereka tidak mencegahnya, hampir saja Allah akan menurunkan azab-Nya secara merata kepada mereka.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Abu Bakar ingin menegaskan bahwa seorang Muslim tidak boleh hanya berdiam diri dan merasa cukup dengan menjaga dirinya sendiri. Jika kemungkaran dibiarkan tanpa ada usaha untuk mencegahnya, maka akibatnya akan dirasakan oleh semua orang.

Mengapa Harus Ber- Amar Makruf Nahi Mungkar?

Menegakkan amar makruf nahi mungkar bukan hanya tanggung jawab ulama atau pemimpin, tetapi juga kewajiban setiap Muslim. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ رَأَىٰ مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَٰلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.“(HR. Muslim)

Dari hadis ini, kita memahami bahwa sekecil apa pun usaha kita dalam mencegah kemungkaran, itu tetap bernilai di sisi Allah. Jangan pernah merasa bahwa suara kita tidak berpengaruh, karena setiap kebaikan yang kita lakukan adalah bagian dari perubahan besar yang Allah kehendaki.

Mari Menjadi Cahaya di Tengah Kegelapan! Hal yang mungkar selalu dimisalkan sebagai kegelapan dan hal yang makruf sebagai cahaya. Merupakan kewajiban seorang Muslim, kita tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah maraknya keburukan.

Mulailah dari lingkungan terdekat, dengan saling menasihati dalam kebaikan, berbicara dengan hikmah, dan memberikan contoh yang baik. Mari kita bersama-sama menegakkan amar makruf nahi mungkar dengan penuh kelembutan dan kebijaksanaan. Dengan begitu, kita akan menjadi bagian dari umat yang Allah sebut sebagai khaira ummah, umat terbaik yang membawa cahaya di tengah kegelapan. Semoga Allah selalu membimbing kita dalam jalan kebenaran. Aamiin.

—Kementerian Amar Makruf Nahi Munkar


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *