Mengapa Muslim di Indonesia Kurang Gemar Membaca?

Ketika wahyu pertama turun kepada Rasulullah ﷺ, kata pertama yang Allah perintahkan adalah “Iqra’”—Bacalah! (QS. Al-‘Alaq: 1). Ini bukan sekadar perintah biasa, melainkan penegasan bahwa membaca adalah kunci ilmu dan cahaya bagi kehidupan seorang Muslim.   

Indonesia, dengan 87,2% penduduknya beragama Islam (BPS 2022), memiliki tingkat literasi yang masih memprihatinkan. UNESCO mencatat hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang gemar membaca, sementara survei BPS 2020 menunjukkan hanya 10% penduduk rajin membaca buku. Laporan PISA 2022 juga menegaskan ketertinggalan literasi Indonesia dibanding negara lain. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar, angka ini mencerminkan rendahnya minat baca di kalangan Muslim Indonesia. Jika Islam menekankan pentingnya membaca, mengapa justru umat Islam di Indonesia kurang gemar membaca?

Salah satu penyebabnya adalah pola pikir masyarakat yang lebih menyukai sesuatu yang instan. Di era digital ini, informasi datang dalam hitungan detik, semuanya bisa diperoleh hanya dengan satu kali klik. Akibatnya, kebiasaan membaca dan memahami sesuatu secara mendalam semakin ditinggalkan. Padahal, Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’” (QS. Az-Zumar: 9)

Ayat ini menegaskan bahwa orang yang memiliki ilmu berada pada derajat yang berbeda dengan mereka yang tidak berilmu. Ilmu hanya bisa diperoleh dengan membaca dan menelaah, bukan sekadar mengandalkan cuplikan informasi dari media sosial. Para ulama terdahulu menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menuntut ilmu. Imam Bukhari, misalnya, menghabiskan 16 tahun untuk menyusun Shahih Bukhari. Sementara itu, banyak dari kita lebih tertarik membaca ringkasan singkat daripada menggali ilmu langsung dari sumbernya. Bahkan, tak sedikit yang lebih percaya informasi viral ketimbang membuka kitab para ulama.

Selain itu, kebiasaan membaca tidak ditanamkan sejak kecil. Banyak anak tumbuh di lingkungan yang tidak membiasakan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Di rumah, orang tua lebih sering memberikan anak akses ke gawai daripada membiasakan mereka dengan buku-buku. Bahkan di sekolah, membaca sering kali dianggap sebagai kewajiban, bukan kebutuhan.

Padahal, dalam sejarah Islam, pendidikan adalah pilar utama peradaban. Pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, Baitul Hikmah di Baghdad menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Ribuan ulama, ilmuwan, dan cendekiawan menghabiskan waktu mereka untuk membaca, menulis, dan berdiskusi. Berbeda dengan kondisi sekarang, di mana banyak perpustakaan yang sepi, hanya didatangi ketika ada tugas. Hal ini sangat disayangkan mengingat Islam sejak awal menekankan pentingnya menuntut ilmu. Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

إنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخرِينَ

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan kitab ini (Al-Qur’an) dan merendahkan yang lain dengannya.” (HR. Muslim, no. 817)

Hadits ini menegaskan bahwa kejayaan suatu umat bergantung pada bagaimana mereka memperlakukan ilmu. Jika mereka menghormati dan mengamalkan ilmu, Allah akan meninggikan derajat mereka. Sebaliknya, jika mereka lalai terhadap ilmu, maka kehancuran dan keterbelakangan akan menjadi akibatnya. Maka, tidak mengherankan jika peradaban Islam dahulu maju ketika umatnya sangat mencintai ilmu, sementara saat ini, kemunduran terjadi karena banyak yang menyepelekan ilmu dan enggan membaca.

Masalah lain yang tak kalah penting adalah akses terhadap bacaan berkualitas. Sebenarnya, buku-buku Islam sangat banyak, baik yang membahas fiqih, sejarah, tafsir, hingga pemikiran Islam kontemporer. Namun, tidak semua orang tahu harus mulai dari mana. Banyak yang menganggap buku Islam terlalu berat, padahal ada banyak yang bisa dipahami dengan mudah jika dibaca dengan niat mencari ilmu. Sayangnya, promosi buku berkualitas masih kalah dibandingkan dengan konten hiburan, sehingga masyarakat lebih mengenal tren budaya populer daripada memahami agamanya sendiri.

Lalu, bagaimana cara mengubah keadaan ini? Islam sudah memberikan jawabannya: mulai dari membiasakan membaca Al-Qur’an dengan memahami maknanya. Jika terbiasa membaca dan merenungkan isinya, kebiasaan membaca akan tumbuh dengan sendirinya. Setelah itu, bacalah buku-buku para ulama yang membahas akidah, sejarah Islam, dan pemikiran yang mendalam. Jangan menunggu motivasi, karena membaca adalah bagian dari ibadah. Jika merasa lingkungan sekitar kurang mendukung, buatlah komunitas yang gemar membaca dan diskusikan isi buku di majelis ilmu. Media sosial juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana literasi. Kampanye tentang pentingnya membaca dan rekomendasi buku Islami bisa dibuat lebih menarik agar lebih banyak orang yang tertarik.

Selain itu, peran lembaga pendidikan dan masjid juga tidak kalah penting. Program wakaf buku, taman baca di masjid, serta kelas literasi berbasis Islam bisa menjadi langkah konkret dalam meningkatkan minat baca umat Islam.

Membaca bukan sekadar hobi atau aktivitas sampingan. Ini adalah warisan peradaban Islam yang harus dihidupkan kembali. Jika kita ingin umat Islam kembali berjaya, maka kita harus mulai dari hal yang paling mendasar: Iqra’—Bacalah!

Sumber referensi: https://kallainstitute.ac.id/rendahnya-minat-literasi-di-indonesia/


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *